SELAMAT DATANG DI BLOG SD WIDURI JAYA, ADDRESS : JL. DURI MAS RAYA NO.1 KEL. DURI KEPA KEC. KEBONJERUK JAKARTA BARAT, PHONE. 021-5605159 INFO FROM MR. TARYO HA, S.Pd. BLOGGER OF SD WIDURI JAYA


Gedung YP Widuri Jaya

Sekolah ini dibangun pada tahun 1984 dan mulai digunakan pada tahun 1985.

Guru-Guru SD Widuri Jaya

SD Widuri Jaya dibimbing oleh guru-guru yang berpengalaman dibidangnya.

Saat Acara Pelepasan Siswa Kls VI SD

Saat pelepasan siswa Kelas VI SD Widuri Jaya Bertempat di HOTEL DELAGA BIRU CIPANAS JAWA BARAT TP. 2011/2012 penuh rasa haru.

Kegiatan Pramuka

Kegiatan Pramuka diadakan setiap hari Jum'at jam 08.00 - 09.00

Blogger SD Widuri Jaya

Blogger SD Widuri Jaya adalah Pak. Taryo HA, S.Pd. selalu berusaha untuk memberikan informasi terkini tentang SD Widuri Jaya

Jumat, Agustus 28, 2009

MENGENAL LEBIH DEKAT BU ISMOYOWATI, S.Pd.

BU ISMO


Beliau di lahirkan di sebuah kota kecil tepatnya Purworejo pada tanggal, 5 Januari 1963. Tepatnya hampir berdekatan dengan Stasiun Kereta Api Kutoarjo. Beliau bersuamikan seorang TNI AL dan dikaruniai dua orang anak.Bu Ismo mulai bergabung di YP Pendidikan Widuri Jaya sudah lebih dari 20 tahun, keuletannya dan semangat dalam mengajar merupakan modal utamanya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Saat ini beliau dipercaya untuk mengajar di SD dan SMP Widuri Jaya. Selain itu Ibu Ismo ini adalah seorang muslimah yang taat beribadah, sampai-sampai puasa sunat Senin-Kamis nyaris tak terlupakan. Beliau juga merupakan sosok ibu yang dicintai oleh anak-anaknya juga suaminya. penampilan yang sederhana, membuat dia semakin bersahaja.

Senin, Agustus 24, 2009

TV ONLINE

PERSONIL GURU SD


PERSONIL GIRU SD

GALERY PHOTO

SISWA BERPRESTASI SD WIDURI JAYA TP. 2009/2010

PHOTOS GALLERY

INFO TERKINI

EKTRA KURIKULER

KREASI SISWA

PPDB

Kamis, Agustus 20, 2009

MENGENAL PAHLAWAN NASIONAL

K.H Ahmad Dahlan
K. H. Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwisy), adalah pelopor dan bapak pembaharuan Islam. Kyai Haji kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868, inilah yang mendirikan organisasi Muhammadiyah, 18 November 1912. Pahlawan Nasional ini wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta, 23 Februari 1923




K.H. Wahid Hasjim
KH Wahid Hasjim adalah pahlawan nasional, salah seorang anggota BPUPKI dan perumus Pancasila. Putera KH M Hasyim Asy’ari, pendiri NU, ini lahir di Jombang, 1 Juni 1914 dan wafat di Cimahi, 19 April 1953. Ayahanda Gus Dur ini menjabat Menteri Agama tiga kabinet (Kabinet Hatta, Natsir dan Sukiman).

Rabu, Agustus 19, 2009

PENYERAHAN TROPHY KEPADA SANG JUARA DALAM LOMBA MEMERIAHKAN HUT RI KE-64


SEMANGAT JUANG SENANTIASA BERKOBAR DI SETIAP INSAN YANG RINDU AKAN BUMI PERTIWI INDONESIA
INDONESIA MERAH DARAHKU, PUTIH TULANGKU, BERSATU DALAM SEMANGATMU, KEBYAR,KEBYAR KE LANGIT JINGGA

Bpk. Sri Warnanto (Ka. SD WJ) berpose bersama Bu Anita sebelum trophy diserahkan kepada sang juara

Pak Taryo HA, Ketua Penyelenggara Perayaan HUT RI Ke-64 SD Widuri Jaya Tahun 2009
Pak Mar'ali Wakil ketua Penyelenggara Perayaan HUT RI ke-64 SD Widuri Jaya Tahun 2009

Bu Anita Saat menyerahkan trophy kepada siswanya kelas V

Bu Halimah saat menyerahkan hadiah kepada siswa Kls. II

Pak Taryo HA, sedang menyerahkan trophy kepada siswa kelas IVA

Pak Mar'ali sedang menyerahkan trophy kepada siswa kelas III

Document by. HR.09



MENGENAL SISWA BERPRESTASI

MILLAN DHILLON




Millan Dhilon is my full name, please call me Millan, On January 5, 2000 I was born in Jakarta. I am in the greade 5, my hobbies are reading, swimming and drawing. I live at Jl. Duri Kencana Timur No. 37.My motto is "Study hard make me become smart student.

IMELDA WISELYN


Hallo my full name is Imelda Wiselyn, I was born in Jakarta on May 3, 2000. And now I am in grade 5. My hobby are drawing ang reading comics. I My address is at Jl. Villa Tomang Mas Block C/7. I always try become the best studrnt in my class. My motto is "Trough the study, can change my life"

ESTEFANY CHRISTABELLA


Hallo namaku, Estefany Christabella orang memanggilku Bella, aku dilahirkan di Jakarta pada tanggal 17 April 2000, Aku sekarang duduk di kelas IV B, saat aku berada di kelas III tahun lalu aku berada di urutan ke III, aku akan terus berusaha meraih semua yang aku cita-citakan. Membaca Buku adalah hobiku sejak aku masih kecil. Teman-teman berusahalah untuk menjadi yang terbaik dan menjadi kebanggaan buat orang tua, sekolah dan kita sendiri. Selamat berjuang ya..semoga kita bisa mencapai semua apa yang kita harapkan. Hampir lupa, aku tinggal di Jl. Tanjung Duren Utara IV, No. 226A



THOMAS ASRIL
SISWA SD TERBAIK PADA KELULUSAN
SD WIDURI JAYA
TAHUN PELAJARAN 2008/2009


Kepala SD Widuri Jaya, Bpk. Sri Warnanto, S.Pd. sedang memberikan trophy kepada Thomas Asril sebagai siswa terbaik dalam kelulusan siswa SD Widuri Jaya untuk tahun pelajaran 2008/2010. Thomas Asril ini dilahirkan di Jakarta pada tanggal, 5 April 1998, Putra dari Bapak Yusuf. Keuletannya dan semangat belajar tak pernah hilang dari dirinya. Semoga ditempatmu melanjutkan pendidikan Thomas akan senantiasa menjadi yang terbaik. Sukses selalu.

JASON SAMUEL


Jason Samuel adalah nama lengkapku, nama panggilanku adalah Jason, Aku dilahirkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1999, sekarang aku duduk di kelas V SD Widuri Jaya, sekarang aku tinggal di Jl. Asem II No. 50C. Aku bangga sekolah di Widuri Jaya, semoga sekolahku tambah maju. Aku ingin selalu hidupku bisa bermanfaat untuk diriku sendiri juga orang-orang yang ada disekelilingku.



AUDI ARIF IBRAHIM


Namaku Audi Arif Ibrahim, Aku dilahirkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2001, sekarang aku duduk di kelas II SD, sewaktu aku kelas II kata guruku termasuk anak yang berprestasi, peringkatku saat itu adalah peringkat ke II, sekarang aku duduk di kelas III, aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik.



NATASYA CHRISTABEL (PUTRI)
Halo namaku Natasya Christabel, Aku dilahirkan di jakarta pada tanggal 19 Oktober 2000. Aku sekarang berada di kelas 4A SD Widuri Jaya, Andai aku besar nanti aku ingin menjadi model, kini aku tinggal di JL. Asia Baru Blok. FF No. 134. Makanan kesukaanku pizza dan minuman kesukaanku es markisa, menari dan melukis adalah hobiku. Sewaktu di kelas III aku menduduki peringkat kedua. Aku bisa seperti ini karena aku selalu ingat peasn papa dan mamah serta guru-guruku disekolah. Terima kasih Tuhan, Terima kasih Mama dan Papa juga semua guru.


WINDI ARIESTA


Hallo, nama lengkapku Windy Ariesta, nama panggilanku Windy. Sekarang aku duduk di kelas III, Aku dilahirkan di Jakarta pada tanggal 31 Maret 2001. Aku tinggal di Jl. Rambutan Timur IV No. 151. Aku bisa meraih prestasi karena aku mau belajar bersungguh-sungguh. Pokonya buat teman-teman, teruslah berusaha untuk menjadi yang terbaik, jangan lupa jangan bikin masalah di sekolah, dengakan semua nasehat dan perintah guru. Terlebih orang tua kita. Terima kasih kepada semua guru-guruku.



VALENCIA JASMINE

Hi, friend ! My name is Valencia Jasmine, I was born in Jakarta, on September 7, 2000, I am in the fourth grade "A" now of SD Widuri Jaya. My hobbies are playing basketball, swimming and dancing. I live at Jl. Duri raya VI RT.2 RW.1 No, 6. I love my parents, my teacher, my friends and also my school. I like all of the lesson. I became the best student, because I always study hard in every where.

KEHIDUPAN BAWAH LAUT KARYA VALENCIA JASMINE


MICHAEL SUSANTO

Hi, I am Michael Sutanto. My nick name is Michael. I'm in the foutrh grade "B" now. I was born in Jakarta on March 5, 2000. My habby is playing computer. I live at Jl. Duri Nirmala 5 No. 32.
I became the first student because I always study hard. Everywhere and every times. Thank you God, Thank you Dad, Thank you Mum, Thank you teacher, I love you all.

Ir. SOEKARNO TOKOH PROKLAMATOR

PROKLAMATOR SOEKARNO


Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Soekarno (Bung Karno) Presiden Pertama Republik Indonesia, 1945- 1966, menganut ideologi pembangunan ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Proklamator yang lahir di Blitar, Jatim, 6 Juni 1901 ini dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya: “Go to hell with your aid.” Persetan dengan bantuanmu.


Ia mengajak negara-nega-ra sedang berkembang (baru merdeka) bersatu. Pemimpin Besar Revolusi ini juga berhasil mengge-lorakan semangat revolusi bagi bangsanya, serta menjaga keutuhan NKRI.

Tokoh pencinta seni ini memiliki slogan yang kuat menggantungkan cita-cita setinggi bintang untuk membawa rakyatnya menuju kehidupan sejahtera, adil makmur. Ideologi pembangunan yang dianut pria yang berasal dari keturunan bangsawan Jawa (Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, suku Jawa dan ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai, suku Bali), ini bila dilihat dari buku Pioneers in Development, kira-kira condong menganut ideologi pembangunan yang dilahirkan kaum ekonom yang tak mengenal kamus bahwa membangun suatu negeri harus mengemis kepada Barat. Tapi bagi mereka, haram hukumnya meminta-minta bantuan asing. Bersentuhan dengan negara Barat yang kaya, apalagi sampai meminta bantuan, justru mencelakakan si melarat (negara miskin).

Bagi Bung Karno, yang ketika kecil bernama Kusno, ini tampaknya tak ada kisah manis bagi negara-negara miskin yang membangun dengan modal dan bantuan asing. Semua tetek bengek manajemen pembangunan yang diperbantukan dan arus teknologi modern yang dialihkan — agar si miskin jadi kaya dan mengejar Barat — hanyalah alat pengisap kekayaan si miskin yang membuatnya makin terbelakang.

Itulah Bung Karno yang berhasil menggelorakan semangat revolusi dan mengajak berdiri di atas kaki sendiri bagi bangsanya, walaupun belum sempat berhasil membawa rakyatnya dalam kehidupan yang sejahtera. Konsep “berdiri di atas kaki sendiri” memang belum sampai ke tujuan tetapi setidaknya berhasil memberikan kebanggaan pada eksistensi bangsa. Daripada berdiri di atas utang luar negeri yang terbukti menghadirkan ketergantungan dan ketidakberdayaan (noekolonialisme).

Masa kecil Bung Karno sudah diisi semangat kemandirian. Ia hanya beberapa tahun hidup bersama orang tua di Blitar. Semasa SD hingga tamat, ia tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjut di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu ia pun telah menggembleng jiwa nasio-nalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, ia pindah ke Bandung dan me-lanjutkan ke THS (Technische Hooge-school atau Sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.

Kemudian, ia merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, si penjajah, menjebloskannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul ‘Indonesia Menggugat’, dengan gagah berani ia menelanjangi kebobrokan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.

Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas (1931), Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, ia kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik sangat hebat. Ia pun tak mau membubarkan PKI yang dituduh oleh mahasiswa dan TNI sebagai dalang kekejaman pembunuh para jenderal itu. Suasana politik makin kacau. Sehingga pada 11 Maret 1966 ia mengeluarkan surat perintah kepada Soeharto untuk mengendalikan situasi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Supersemar. Tapi, inilah awal kejatuh-annya. Sebab Soeharto menggunakan Supersemar itu membubarkan PKI dan merebut simpati para politisi dan mahasiswa serta ‘merebut’ kekuasaan. MPR mengukuhkan Supersemar itu dan menolak pertanggungjawaban Soekarno serta mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden.

Kemudian Bung Karno ‘dipenjarakan’ di Wisma Yaso, Jakarta. Kesehatannya terus memburuk. Akhirnya, pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi ini meninggalkan 8 orang anak. Dari Fatmawati mendapatkan lima anak yaitu Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Dari Hartini mendapat dua anak yaitu Taufan dan Bayu. Sedangkan dari Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mendapatkan seorang putri yaitu Kartika.

Orator Ulung
Presiden pertama RI itu pun dikenal sebagai orator yang ulung, yang dapat berpidato secara amat berapi-api tentang revolusi nasional, neokolonialis-me dan imperialisme. Ia juga amat percaya pada kekuatan massa, kekuatan rakyat.

“Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat,” kata Bung Karno, dalam karyanya ‘Menggali Api Pancasila’. Suatu ungkapan yang cukup jujur dari seorang orator besar.

Gejala berbahasa Bung Karno merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Kemahirannya menggunakan bahasa dengan segala macam gayanya berhubungan dengan kepribadiannya. Hal ini tercermin dalam autobiografi, karangan-karangan dan buku-buku sejarah yang memuat sepak terjangnya.

Ia adalah seorang cen-dekiawan yang meninggal-kan ratusan karya tulis dan beberapa naskah dra-ma yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbit-kan dengan judul “Diba-wah Bendera Revolusi”, dua jilid. Jilid pertama boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili diri Soekarno sebagai Soekarno.

Dari buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut tulisan pertama yang bermula dari tahun 1926, dengan judul “Nasionalis-me, Islamisme, dan Marxisme” adalah paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora masa mudanya, seorang pemuda berumur 26 tahun.

Di tengah kebesarannya, sang orator ulung dan penulis piawai, ini selalu membutuhkan dukungan orang lain. Ia tak tahan kesepian dan tak suka tempat tertutup.

Di akhir masa kekuasaannya, ia sering merasa kesepian. Dalam autobio-grafinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat itu, bercerita. “Aku tak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat tidur barang sekejap. Kadang-kadang, di larut malam, aku menelepon seseorang yang dekat denganku seperti misalnya Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, ‘Bandrio datanglah ke tempat saya, temani saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan kalau saya tertidur, maafkanlah.... Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai makan obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.”

Dalam bagian lain disebutkan, “Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden tak ubahnya seperti suatu pengasingan yang terpencil... Seringkali pikiran oranglah yang berubah-ubah, bukan pikiranmu... Mereka turut menciptakan pulau kesepian ini di sekelilingmu.”

Anti Imperialisme
Pada 17 Mei 1956. Bung Karno mendapat kehormatan menyampaikan pidato di depan Kongres Amerika Serikat. Sebagaimana dilaporkan New York Times (halaman pertama) pada hari berikutnya, dalam pidato itu dengan gigih ia menyerang kolonialisme.

“Perjuangan dan pengorbanan yang telah kami lakukan demi pembebasan rakyat kami dari belenggu kolonialisme, telah berlangsung dari generasi ke generasi selama berabad-abad. Tetapi, perjuangan itu masih belum selesai. Bagaimana perjuangan itu bisa dikatakan selesai jika jutaan manusia di Asia maupun Afrika masih berada di bawah dominasi kolonial, masih belum bisa menikmati kemerdekaan?” pekik Soekarno ketika itu.

Hebatnya, meskipun pidato itu dengan keras menentang kolonialisme dan imperialisme, serta cukup kritis terhadap negara-negara Barat, ia mendapat sambutan luar biasa di Amerika Serikat (AS).

Pidato itu menunjukkan konsistensi pemikiran dan sikap-sikap Bung Karno yang sejak masa mudanya antikolonialisme. Terutama pada periode 1926-1933, semangat antikolonialisme dan anti-imperialisme itu sudah jelas dikedepankannya.

Sangat jelas dan tegas ingatan kolektif dari pahitnya kolonialisme yang dilakukan negara asing yang kaya itu. Namun, kata dan fakta adalah dua hal yang berbeda, dan tak jarang saling bertolak belakang.

Soekarno dan para penggagas nasionalisme lainnya dipaksa bergulat di antara “kata” dan “fakta” politik yang dicoba dirajut namun ternyata tidak mudah, dan tak jarang menemui jalan buntu.

Soekarno yang rajin berkata-kata, antara lain mengenai gagasan besarnya menyatukan kaum nasionalis, agama dan komunis (1926) menemukan kenyataan yang sama sekali bertolak belakang, ketika ia mencobanya menjadi fakta. Begitu pula gagasan besarnya yang lain: marhaenisme, atau nasionalisme marhaenistis, yang matang dikonsepsikan pada tahun 1932. Bahkan, gagasannya mengenai Pancasila.

Tokoh Kontroversial
Sebagai sosok yang memiliki prinsip tegas, Bung Karno kerap dianggap sebagai tokoh kontroversial. Maka tak heran jika dia memiliki lawan maupun kawan yang berani secara terang-terangan mengritik maupun membela pandangannya. Di mata lawan-lawan politiknya di Tanah Air, ia dianggap mewakili sosok politisi kaum abangan yang “kurang islami”. Mereka bahkan menggolongkannya sebagai gembong kelompok “nasionalis sekuler”.

Akan tetapi, di mata Syeikh Mahmud Syaltut dari Cairo, penggali Pancasila itu adalah Qaida adzima min quwada harkat al-harir fii al-balad al-Islam (Pemimpin besar dari gerakan kemerdekaan di negeri-negeri Islam). Malahan, Demokrasi Terpimpin, yang di dalam negeri diperdebatkan, justru dipuji oleh syeikh al-Azhar itu sebagai, “lam yakun ila shuratu min shara asy syuraa’ allatiy ja’alha al-Qur’an sya’ana min syu’un al-mu’minin” (tidak lain hanyalah salah satu gambaran dari permusyawaratan yang dijadikan oleh Al Quran sebagai dasar bagi kaum beriman).

Tatkala memuncak ketegangan antara Israel dan negara-negara Arab soal status Palestina ketika itu, pers sensasional Arab menyambut Bung Karno, “Juara untuk kepentingan-kepentingan Arab telah tiba”. Begitu pula, Tahta Suci Vatikan memberikan tiga gelar penghargaan kepada presiden dari Republik yang mayoritas Muslim itu.

Memang, pembelaan Bung Karno terhadap kaum tertindas tidak hanya untuk negerinya namun juga negeri lain. Itulah sebabnya, mengapa ia dipuja habis oleh bangsa Arab yang tengah menghadapi serangan Israel kala itu. Bung Karno dianggap sebagai pemimpin kaum Muslim. Padahal, di dalam negeri sendiri ia kerap dipandang lebih sebagai kaum abangan daripada kaum santri.

Sebenarnya, seberapa religiuskah Bung Karno? Bukankah ia juga dalam konsepsi Pancasila merumuskan sila Ketuhanan Yang Maha Esa? Sila yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan mengakui lima agama. Bagaimana mungkin merangkum visi lima agama itu dalam satu kalimat yang mendasar itu kalau si pembuat kalimat tidak memahami konteks kehidupan beragama di Indonesia secara benar?

Dalam hal ini elok dikutip pendapat Clifford Geertz Islam Observed (1982): “Gaya religius Soekarno adalah gaya Soekarno sendiri.” Betapa tidak? Kepada Louise Fischer, Bung Karno pernah mengaku bahwa ia sekaligus Muslim, Kristen, dan Hindu. Di mata pengamat seperti Geertz, pengakuan semacam itu dianggap sebagai “bergaya ekspansif seolah-olah hendak merangkul seluruh dunia”. Sebaliknya, ungkapan semacam itu-pada hemat BJ Boland dalam The Struggle of Islam in Modern Indonesia (1982)- “hanya merupakan perwujudan dari perasaan keagamaan sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya Jawa”. Bagi penghayatan spiritual Timur, ucapan itu justru “merupakan keberanian untuk menyuarakan berbagai pemikiran yang mungkin bisa dituduh para agamawan formalis sebagai bidah”.

Sistem Politik
Soekarno memiliki pandangan mengenai sistem politik yang didukungnya adalah yang paling “cocok” dengan “kepribadian” dan “budaya” khas bangsa Indonesia yang konon mementingkan kerja sama, gotong-royong, dan keselarasan. Dalam retorika, ia mengecam “individualisme” yang katanya lahir dari liberalisme Barat. Individualisme itu melahirkan egoisme, dan ini terutama dicerminkan oleh pertarungan antarpartai.

Lalu ia mencetuskan Demokrasi Terpimpin. Dalam berpolitik Soekarno mementingkan politik mobilisasi massa, ia bersimpati pada gerakan-gerakan anti-imperialisme, dan mungkin sebagai salah satu konsekuensinya, penerimaannya pada Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai aktor politik yang sah, pendukung konsepsi demokrasi terpimpin. Jadi ia mencanangkan sistem politik yang berwatak anti-liberal dan curiga pada pluralisme politik. Ia mementingkan “persatuan” demi “revolusi”.

Pada tahun 1950-an, Indonesia memang ditandai oleh ketidakstabilan politik yang disebabkan oleh sistem demokrasi parlementer. Sistem ini bersifat sangat liberal, dan didominasi oleh partai-partai politik yang menguasai parlemen. Pemilu 1955-yang dimenangkan empat kekuatan besar, Masyumi, Partai Nasional Indonesia (PNI), Nahdlatul Ulama (NU) serta PKI- hingga kini masih dianggap sebagai pemilu paling bebas dan bersih yang pernah dilaksanakan sepanjang sejarah Indonesia. Namun, di sisi lain dari sistem parlemen yang dikuasai partai itu adalah sering jatuh bangunnya kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri. Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa integritas nasional terus-menerus diancam oleh berbagai gerakan separatis, yakni DI/TI, PRRI/Permesta, dan sebagainya.

Kenyataan ini membuat Soekarno makin curiga pada partai politik karena dia menganggap Masyumi, dan juga PSI, terlibat dalam beberapa pemberontakan daerah.
Kemudian, Soekarno mendekritkan kembalinya Indonesia pada UUD 1945 karena kegagalan Konstituante untuk memutuskan UUD baru untuk Indonesia, akibat perdebatan berlarut-larut, terutama antara kekuatan nasionalis sekuler dan kekuatan Islam mengenai dasar negara.
► e-ti/crs, dari berbagai sumber

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) ]

Selasa, Agustus 18, 2009

Nama-Nama Pahlawan Nasional

NAMA-NAMA PAHLAWAN


PROKLAMATOR
Bung Karno (Ir Soekarno)
Bung Hatta (Dr. Mohammad Hatta)

PAHLAWAN NASIONAL
► Abdul Kadir RT Setia (1771-l875)
Abdul Muis (1883-1959)
► Abdulrahman Saleh (1909-1947)
Achmad Yani (1922-1965)
Adam Malik (1917-1984)
► Achmad Ri'fai, KH
► Agus Salim, H (1884-1954)
► Agustinus Adisucipto (1916-1947)
Ahmad Dahlan, KH (1868-1923)
► Ahmad Dahlan, Nyi (1872-1946)
Amir Hamzah,Tengku (1911-1946)
► Andi Mappanyukki
► Antasari, Pangeran (1809-1862)
► Arie Frederik Lasut (1918-1949)
► Basuki Rakhmat (1921-1969)
► Cik Di Tiro, Teungku (1836-1891)
Cipto Mangunkusumo, Dr. (1886-1943)
► Cokroaminoto, H.U.S. (1883-1934)
Cut Nyak Dhien (1850-1908)
Cut Nyak Meutia (1870-1910) ,
► Danurdirdja Setiabudi, Dr. (1879-1950)
► Dewi Sartika (1884-1947)
Diponegoro, Pangeran (1785-1855)
Djuanda Kartawidjaja (1911-1963)
► Fakhruddin, K.H. (1890-1929)
► Fisabilillah, Raja Haji (1725-l784)
► Frans Kaisiepo. (192l-l979)
► Gatot Mangkoepradja
Gatot Subroto, Jend. (1907-1962)
Halim Perdanakusuma (1922-1947)
Harun Tohir, Kopral KKO (1947-1968)
► Haryono, M.T. (1924-1965)
► Hasanuddin, Sultan (1631-1670)
Hasyim Asy'ari, KH (1875-1947)
► Hazairin, Prof. Dr. S.H. (1906-1975)
Ignatius Slamet Rijadi
► Ilyas Yacob (1903-l958)
Imam Bonjol, Tuanku (1772-1864)
► Inten, Raden (1834-1856)
► Iskandar Muda, Sultan (1593-1636)
Ismail Marzuki (1914-1958)
► Iswahyudi, R. ( 1918 -1947)
Kartini, RA (1879-1904)
► Katamso, Brigjen TNI (1923-1965)
► Ketut Jelantik, I Gusti ( 1849)
Ki Hajar Dewantara (1889-1959)
► Kusuma Atmadja (1898-1952)
► La Maddukkelleng (1700-l765)
► Lumban Tobing, Ferdinand (1899-1962)
► Mahmud Badaruddin II, Sltn (1767-1852)
► Mangkunegoro I, K.G.P.A.A. (1725-1795)
Manullang, Tuan MH (1887-1979)
► Maria W. Maramis (1872-1924)
► Martadinata, R.E ( 1921-1966)
► Martha Khristina Tiahahu (1801-1818)
► Marthen Indey (1912-l986)
► Mas Mansyur, K.H. (1896-1946)
► Maskoen Soemadiredja
Mohammad Hatta, Dr. (1902-1980)
Mohammad Husni Thamrin (1894-1941)
Mohammad Natsir (1908-1993)
M.T. Haryono (1924-1965)
► Mohammad Yamin, Prof. (1903-1962)
► Muwardi, Dr. (1907-1948)
► Ngurah Rai, I Gusti. (19l7-1946)
► Nuku Muhammad Amiruddin (1738-l805)
► Nyak Arief, Teuku (1899-1946)
► Nyi Ageng Serang (1752-1828)
► Otto Iskandardinata, R. (1897-1945)
► Pakubuwono VI, Sri Sshunan (1807-1849)
Panjaitan, D.I. (1925-1965)
► Panji Soeroso, Raden (1893-1981)
► Parman, S. (1918-1965) ...
Pattimura, Kapitan (1783-1817)
► Piere Tendean (1939-1965)
► Raja Ali Haji
Rasuna Said, HR. (1910-1965)
► Ratulangi, G.S.Y, Dr. (1890-1949)
► Robert Wolter Monginsidi (1925-1949)
► Saharjo, Dr. SH (1909-1963)
► Samanhudi, K.H. (1868-1956)
► Sasuit Tubun, KS (1928-1965)
Si Singamangaraja XII (1849-1907)
Silas Papare (19l8-l987)
Siti Hartinah Soeharto (1923-l996)
Soekarno, Ir. (1901-1970)
S. Parman (1901-1970)
Sri Sultan H Buwono IX, (19l2-1988)
► Sudarso, Y. (1925-1962)
Sudirman, Jenderal (1916-1950)
► Sugiono (1926-1965)
► Sugiyopranoto, A. S.J, Mgr. (1896-1963)
Suharso, R. Prof. Dr. (1912-1971)
► Sukarjo Wiryopranoto (1903-1962)
► Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1692)
► Sultan Agung. (1591-1645)
► Supeno (1916-1949)
► Supomo, R. Prof. DR. SH (1903-1958)
Suprapto (1920-1965)
► Supriyadi (1923-1945)
► Suryo, R.M. (1898-1948)
► Suryopranoto, R.M. (1871-1959)
Sutan Syahrir (1909-1966)
Sutomo, Dr. (1888-1938)
Sutoyo Siswomiharjo (1922-1965)
► Syarif Kasim II, Sultan (1893-l968)
► Teuku Umar (1854-1899)
► Thaha Syaifuddin, Sultan (1816-1904)
► Tjilik Riwut (19l8-l987)
► TuankuTambusai (1784-1882)
► Untung Surapati (1660-1706)
► Urip Sumohardjo, Jend. (1893-1948)
Usman Bin Haji Moh. Ali (1943-1968)
Wage Rudolf Supratman (1903-1938)
Wahid Hasjim, Abd. K.H. (1914-1953)
Wahidin Sudirohusodo (1852-1917)
Wartabone, Hi Nani (1907-1986)
► Yohannes, W.Z, Prof. Dr. (1895-1952)
Yos Sudarso (1925-1962)
► Yusuf Tajul Khalwati, Syekh (1626-l699)
► Zaenal Mustofa, K.H. (1899-1945)
► Zainul Arifin, K.H. (1909-1963)
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
KEMBALI KE ATAS